ABSTRAKKeragaman curah hujan yang tinggi secara spasial dan temporal akibat variabilitas iklim berpengaruh nyata terhadap produktivitas tanaman. Salah satu upaya yang efektif dan murah untuk menekan risiko terkait keragaman dan iklim ekstrem adalah menyesuaikan waktu tanam. Kriteria yang umum digunakan untuk menentukan awal musim tanam padi di Indonesia adalah awal musim hujan (MH), yaitu jika jumlah curah hujan > 50 mm dalam tiga dasarian berturutturut. Kriteria lain yang disarankan para pakar adalah jumlah curah hujan selama beberapa hari berturut-turut, yang tidak diikuti oleh beberapa hari kering berturut-turut dalam periode setelahnya. Namun, jumlah hari hujan dan hari kering berturut-turut bervariasi. Sistem informasi untuk penentuan waktu tanam padi di Indonesia adalah Kalender Tanam (Katam). Katam memberikan informasi estimasi awal waktu tanam, potensi luas tanam, rotasi tanaman, dan intensitas tanam pada tingkat kecamatan untuk setiap musim selama satu tahun. Penentuan waktu tanam pada Katam berdasarkan kriteria awal MH. Namun, pertumbuhan tanaman tidak hanya ditentukan oleh curah hujan pada waktu tanam, tetapi juga jumlah dan distribusi hujan selama periode tanam. Oleh karena itu, penentuan waktu tanam perlu pula mempertimbangkan distribusi curah hujan selama musim tanam. Kendala penerapan kriteria tersebut adalah belum tersedianya prediksi curah hujan harian 12 bulan ke depan yang diinformasikan 12 sebelumnya. Namun, dengan menggunakan Global Circulation Model, prediksi curah hujan harian pada musim tanam yang akan datang dapat diberikan tepat waktu. eras merupakan makanan pokok bagi sebagian besar penduduk Indonesia sehingga kebijakan pembangunan pertanian difokuskan pada upaya mencapai kemandirian pangan, terutama beras. Namun, upaya tersebut menghadapi berbagai kendala seperti meningkatnya laju konversi lahan pertanian dan melambatnya pencetakan lahan pertanian baru (Agus et al. 2006). Di lain pihak, meski teknologi pertanian berkembang pesat, penerapannya di tingkat petani berjalan lambat sehingga peningkatan produktivitas padi rata-rata hanya di bawah 1% atau 54 kg/ha/tahun (Agus 2007). Kendala lain adalah penurunan kualitas irigasi akibat degradasi jaringan irigasi (Sumaryanto 2006). Sekitar 60,41% lahan sawah merupakan sawah irigasi (BPS 2013), namun hanya lahan irigasi kelas satu yang sumber airnya terjamin. Kondisi jaringan irigasi yang kurang